pages bg right

Lemahnya Dunia Riset Di Pesantren



Lemahnya Dunia Riset di Pesantren


Dari sekian gambaran tentang asal-usul dan eksistensi pesantren yang banyak dikemukakan banyak pakar, khususnya dalam kontek sejarah sistem pendidikan, proposisi teoritis bahwa pesantren merupakan model pendidikan asli Indonesia banyak diterima. Dalam kontek kependidikan Islam, argumen pendukung teori ini adalah fakta bahwa sistem pendidikan dengan model pesantren ternyata tidak terdapat dibelahan lain dunia muslim kecuali Indonesia, tidak di Timur Tengah sekalipun yang notabene dengan tempat Islam bersentuhan dengan komplensitas problem pembelajaran manusia sejak awal kelahirannya. Argumen ini juga disepakati juga oleh pihak pesantren. Hanya saja jarang dipertanyakan oleh sejarawan dan praktisi pendidikan pesantren bahwa ada soal penting yang layak didiskusikan dan ditelusuri dibalik keabsahan premis dasarnya itu.
Menurut, Hamzah F. Harmi dosen IDIA Prenduan, menjadi soal penting ketika kita menerima proposisi bahwa pesantren merupakan model pendidikan asli Indonesia. Sebab, penerimaan ini mengandaikan penerimaan proposisi tentang kesejarahan lokal dari sejumlah peradapan global di Indonesia, seperti peradapan India-Hindu-Bhudisme, Islam dan Barat Kristen. Sebab, Indonesia sebagai negara yang dibangun 63 tahun yang lalu, telah disinggahi tiga peradaban besar dunia itu: peradaban India-Hindu Bhudisme yang tumbuh di sungai Indus sekitar 4000-an tahun silam, peradapan Islam yang muncul dikawasan padang pasir semenanjung Arab sekitar 14 abad yang lalu, dan peradapan Barat kristen yang akarnya jauh ke Yunani dan Romawi kuno ratusan tahun sebelum kelahiran Isa Al-Masih.
Keberadaan ketiga sistem peradaban itu, begitu mudah dikenal. Peradaban Hindu-Budhisme yang jejak tertuanya di Indonesia sekitar 400-lebih dari dua abad sebelum kelahiran Islam terukir jelas dengan adanya candi Borobudur, karya monomental Budhisme. Representasi peradaban Islam tampak jelas pada kenyataan bahwa manyoritas penghuni kawasan Nusantara menganut Islam sebagai agama. Kendati peninggalan fisik tertua peradaban Islam baru berusia delapan abad (sekitar abad ke 13).
Sedangkan warisan peradaban barat kristen di Indonesia jelas terlihat dalam sistem pendidikan klasikal modern dengan berbagai varian strategi dan metodenya. Dalam kenyataan kultural yang hidup, pada dasarnya tidak pernah ada peradaban sepenuhnya terisolir satu sama lain. Layaknya dinamika budaya di mana ketiga sistem peradaban ini senantiasa dalam proses perubahan konstan dan membentuk jaringan sistem dan pola interaksi yang terus menerus bergeser.

Tapi, yang pasti ketiga peradapan global itu ada persaingan untuk saling menguasai dan sebelum peradapan Islam di Indonesia ini, ada peradapan Hindu-Bhuda yang ratusan tahun sebelum Islam. Tapi, apa dan bagaimana Islam dan pesantren sebagai pusat pendidikannya tumbuh dengan mudah di tengah-tengah peradapan Hindu-Bhuda? Soal-soal penting ini nyaris tidak dikenal dan relatif jarang dipersoalkan bahkan oleh sebagian besar elit pesantren sekalipun. Di sinilah letak kelemahan Islam terutama pesantren sebagai lembaga pendidikannya. Padahal proses kesejarahan sebagian dari sunahtullah tetap bergerak sebagai proses kostan terlepas dari persoalan apakah kita suka atau tidak, apakah kita setuju atau tidak.
Oleh karena itu, tiba saatnya kita orang-orang pesantren (santri) untuk menelusuri akar sejarah perkembangan pesantren di tengah-tengah peradaban Hindu-Bhuda. Sebab, paling tidak ada dua momen penting yang layak ditelusuri. Pertama, momen bagaimana awal islamisasi yang begitu luar biasa dan bagaimana sistem pendidikan pesantren dikembangkan. Dan bagaimana model pesantren diadopsi, diadaptasi dan dimodivikasi dari model pra-Islam (Hindu-Budha) bersinergi dengan dinamika kostan proses islamisasi nusantara berikut konsekuensi-konsekuensi sosio-kultural dan sosio politisnya. Tantangan sosiokultural dan sosiopolitisnya apa yang dihadapi oleh para penyiar Islam di masa-masa awal islamisasi nusantara sehingga mereka begitu mudah dan sangat terbuka dalam megadopsi model pendidikan pra-Islam (Hindu-Budha).

Kedua, momen ketika pemerintah kolonial Belanda menerapkan politik etis diawal abad ke 20 dengan mendirikan sejumlah lembaga sekolah modern? Kita katakan bersikap konservatif karena sejumlah isu kultural, sebut saja misalnya pembelajaran keilmuan belajaran tertentu, agak sedikit disingkirkan di pesantren atas anggapan dasar yang layak dipersoalkan. Kondisi dan historis apakah yang dihadapi pesantren dikedua momen kritis tersebut dan mengapa pesantren mengambil pola respon tersebut? inilah yang jarang dipertanyakan secara kritis.
Oleh karena itu, hal itu menjadi penting untuk diteliti. Sebab, kita, anak cucu kita dan saudara-saudara kita non-muslim dapat dengan mudah ketika ingin mempertajam pemahaman tentang masa lapau filosofis, masa lampau historis dan masa lampau sosiologis tradisi pesantren? Baik pesantren sebagai tempat dia mengalami proses pembelajaran, maupun pesantren tempat simbol Islam.

Oleh : Moh. Munif
Alumni IDIA Prenduan tahun 2008

0 comments:

Post a Comment