Lemahnya Dunia Riset Di Pesantren
Posted by
Unknown
at
Monday, December 02, 2013
Menurut,
Hamzah F. Harmi dosen IDIA Prenduan, menjadi soal penting ketika kita menerima
proposisi bahwa pesantren merupakan model pendidikan asli Indonesia. Sebab,
penerimaan ini mengandaikan penerimaan proposisi tentang kesejarahan lokal dari
sejumlah peradapan global di Indonesia, seperti peradapan India-Hindu-Bhudisme,
Islam dan Barat Kristen. Sebab, Indonesia sebagai negara yang dibangun 63 tahun
yang lalu, telah disinggahi tiga peradaban besar dunia itu: peradaban
India-Hindu Bhudisme yang tumbuh di sungai Indus sekitar 4000-an tahun silam,
peradapan Islam yang muncul dikawasan padang pasir semenanjung Arab sekitar 14
abad yang lalu, dan peradapan Barat kristen yang akarnya jauh ke Yunani dan
Romawi kuno ratusan tahun sebelum kelahiran Isa Al-Masih.
Lemahnya Dunia Riset di Pesantren
Dari
sekian gambaran tentang asal-usul dan eksistensi pesantren yang banyak
dikemukakan banyak pakar, khususnya dalam kontek sejarah sistem pendidikan,
proposisi teoritis bahwa pesantren merupakan model pendidikan asli Indonesia
banyak diterima. Dalam kontek kependidikan Islam, argumen pendukung teori ini
adalah fakta bahwa sistem pendidikan dengan model pesantren ternyata tidak
terdapat dibelahan lain dunia muslim kecuali Indonesia, tidak di Timur Tengah
sekalipun yang notabene dengan tempat Islam bersentuhan dengan komplensitas
problem pembelajaran manusia sejak awal kelahirannya. Argumen ini juga
disepakati juga oleh pihak pesantren. Hanya saja jarang dipertanyakan oleh
sejarawan dan praktisi pendidikan pesantren bahwa ada soal penting yang layak
didiskusikan dan ditelusuri dibalik keabsahan premis dasarnya itu.
Keberadaan
ketiga sistem peradaban itu, begitu mudah dikenal. Peradaban Hindu-Budhisme
yang jejak tertuanya di Indonesia sekitar 400-lebih dari dua abad sebelum
kelahiran Islam terukir jelas dengan adanya candi Borobudur, karya monomental
Budhisme. Representasi peradaban Islam tampak jelas pada kenyataan bahwa
manyoritas penghuni kawasan Nusantara menganut Islam sebagai agama. Kendati
peninggalan fisik tertua peradaban Islam baru berusia delapan abad (sekitar
abad ke 13).
Sedangkan
warisan peradaban barat kristen di Indonesia jelas terlihat dalam sistem
pendidikan klasikal modern dengan berbagai varian strategi dan metodenya. Dalam
kenyataan kultural yang hidup, pada dasarnya tidak pernah ada peradaban
sepenuhnya terisolir satu sama lain. Layaknya dinamika budaya di mana ketiga
sistem peradaban ini senantiasa dalam proses perubahan konstan dan membentuk
jaringan sistem dan pola interaksi yang terus menerus bergeser.
Tapi,
yang pasti ketiga peradapan global itu ada persaingan untuk saling menguasai
dan sebelum peradapan Islam di Indonesia ini, ada peradapan Hindu-Bhuda yang
ratusan tahun sebelum Islam. Tapi, apa dan bagaimana Islam dan pesantren
sebagai pusat pendidikannya tumbuh dengan mudah di tengah-tengah peradapan Hindu-Bhuda?
Soal-soal penting ini nyaris tidak dikenal dan relatif jarang dipersoalkan
bahkan oleh sebagian besar elit pesantren sekalipun. Di sinilah letak kelemahan
Islam terutama pesantren sebagai lembaga pendidikannya. Padahal proses
kesejarahan sebagian dari sunahtullah tetap bergerak sebagai proses kostan
terlepas dari persoalan apakah kita suka atau tidak, apakah kita setuju atau
tidak.
Oleh karena itu, tiba saatnya kita orang-orang pesantren (santri) untuk
menelusuri akar sejarah perkembangan pesantren di tengah-tengah peradaban
Hindu-Bhuda. Sebab, paling tidak ada dua momen penting yang layak ditelusuri.
Pertama, momen bagaimana awal islamisasi yang begitu luar biasa dan bagaimana
sistem pendidikan pesantren dikembangkan. Dan bagaimana model pesantren diadopsi,
diadaptasi dan dimodivikasi dari model pra-Islam (Hindu-Budha) bersinergi
dengan dinamika kostan proses islamisasi nusantara berikut
konsekuensi-konsekuensi sosio-kultural dan sosio politisnya. Tantangan
sosiokultural dan sosiopolitisnya apa yang dihadapi oleh para penyiar Islam di
masa-masa awal islamisasi nusantara sehingga mereka begitu mudah dan sangat
terbuka dalam megadopsi model pendidikan pra-Islam (Hindu-Budha).
Kedua,
momen ketika pemerintah kolonial Belanda menerapkan politik etis diawal abad ke
20 dengan mendirikan sejumlah lembaga sekolah modern? Kita katakan bersikap
konservatif karena sejumlah isu kultural, sebut saja misalnya pembelajaran
keilmuan belajaran tertentu, agak sedikit disingkirkan di pesantren atas
anggapan dasar yang layak dipersoalkan. Kondisi dan historis apakah yang
dihadapi pesantren dikedua momen kritis tersebut dan mengapa pesantren
mengambil pola respon tersebut? inilah yang jarang dipertanyakan secara kritis.
Oleh karena itu, hal itu menjadi penting untuk diteliti. Sebab, kita, anak cucu
kita dan saudara-saudara kita non-muslim dapat dengan mudah ketika ingin
mempertajam pemahaman tentang masa lapau filosofis, masa lampau historis dan
masa lampau sosiologis tradisi pesantren? Baik pesantren sebagai tempat dia
mengalami proses pembelajaran, maupun pesantren tempat simbol Islam.
Oleh : Moh. Munif
Alumni IDIA Prenduan tahun
2008
0 comments:
Post a Comment